Berita Update.
Kabar duka datang dari medan bersepeda di kawasan Samigaluh, Kulonprogo. Dua pesepeda dikabarkan meninggal dunia pada hari yang sama, tetapi dalam kondisi dan lokasi yang berbeda.
Kabar pertama datang dari seorang peserta Audax 200 kilometer, Mbak Astaria.
Dan yang menurut informasi yang beredar peserta event gowes berjarak dan beliau mengalami kecelakaan di turunan kawasan Samigaluh, dalam perjalanan Audax 200 kilometer. Namun, untuk kronologi lengkap dan penyebab pasti kejadian, tentu kita harus menunggu informasi resmi dari pihak yang berwenang.
Nama Mbak Astaria kemudian menjadi perbincangan di grup-grup pesepeda.
Ada yang mengatakan bahwa beliau masih sangat muda. Ada pula yang mengenalnya sebagai teman sekolah. Ada yang kemudian mengaitkan kejadian ini dengan pengalaman bersepeda dan tantangan rute 200 kilometer.
Dari situlah berbagai pendapat mulai bermunculan.
Ada yang mengatakan:
“Newbie kok langsung tekan Samigaluh.”
Ada pula yang mengingatkan bahwa medan seperti Samigaluh mempunyai karakter jalan yang berbeda dengan rute datar. Turunan panjang, tanjakan, serta perubahan kondisi jalan memang membutuhkan kewaspadaan dan kemampuan mengendalikan sepeda.
Tetapi di titik ini saya berhenti.
Sebab kita ini tidak berada di lokasi kejadian.
Kita tidak melihat bagaimana peristiwanya terjadi pastinya.
Kita juga tidak tahu secara pasti kondisi korban, kondisi sepeda, kondisi jalan, maupun faktor lain yang mungkin berperan.
Karena itu, menurut saya, tidak tepat apabila dugaan dari percakapan grup kemudian dianggap sebagai penyebab pasti sebuah kecelakaan....nah?.
Kabar duka 2 datang dari Pak Tomi Wakidi.
Beliau dikenal oleh teman-teman gowesnya sebagai bagian dari komunitas Gobar Kasepuhan.
Informasi yang beredar menyebutkan bahwa beliau mengalami kejadian di medan tanjakan di Kulonprogo.
Foto pak W tanpa seragam kraton Pakualaman.
Teman-temannya kemudian mengenang sosok Pak Wakidi. Ada yang mengenalnya sebagai orang dari warga Puropakualaman, dekat dengan lingkungan kraton Puro Pakualaman. Ada pula cerita dari teman lain yang mengenalnya sejak bekerja sebagai penambal ban dan sering berada di Warjo tempat pospit area utara Jogja.
Namun sekali lagi, cerita tentang sosok beliau adalah bagian dari kenangan teman-temannya. Untuk penyebab pasti meninggalnya beliau, kita tidak seharusnya membuat kesimpulan sendiri hanya berdasarkan percakapan di WhatsApp.
Dan akhirnya, pada hari yang sama, dunia goweser Jogja kehilangan dua orang.
Satu masih sangat muda dan sedang menjalani perjalanan panjangnya mencari identitas diri.
Satu lagi adalah senior yang sudah lama menjadi bagian dari perjalanan dunia gowes road bike.
Mereka.....!?
Dua generasi.
Dua perjalanan.
Dua keluarga yang hari ini harus menerima kehilangan.
Di tengah percakapan itulah muncul sebuah pertanyaan yang sebenarnya juga ditujukan kepada saya sebagai penulis.
Ada yang berkata:
“Arep go opo mas takon-takon di grup gowes masalah musibah nek Samigaluh ?”
Kemudian Pak Eko ikut nyletuk menjawab:
“Wes ra ono orangnya, dongake wae cukup ben husnul khotimah.”
Pak Edi juga mulai urun komen untuk menjelaskan bahwa komentarnya bukan bermaksud menyalahkan korban,tetapi hanya mencoba memahami kemungkinan bahwa medan turunan panjang mungkin belum terlalu familiar bagi peserta atau bagi beliau mungkin saja kondisional kurang fit pas di tanjakan apalagi di paksakan....Penulis bukan sekedar awang awang tempatnya tetapi juga pernah melewati jalan itu bersepeda atau motoran yang makadam rutenya jadi paham alurnya.
Lalu ada pesan lain yang mengingatkan:
“Wis didoakan wae bung... rasah gawe-gawe konten tentang musibah.”
Dan jujur saja...!!?
Di situlah saya diam... (jawaban ada di alinea bawah)
Karena saya adalah penulis....Nganu !?
Saya terbiasa melihat sebuah perjalanan goweser Jogja dan sekitarnya seperti ina inu kembali kuceritakan kembali di blog dan instragram sebagai pengingat bagi banyak orang.
Ini bukan hanya gowes meteka dari tempat yang dituju, tetapi juga dari cerita yang tertinggal setelah perjalanan itu selesai ada kenangan membawa susah,senang, kecapaian, frustasi bahkan saatnya ada yang meninggal dunia seperti cerita kali ini.
Namun kali ini saya bertanya kepada diri sendiri:
Apakah musibah harus selalu dijadikan cerita?
Apakah belajar dari sebuah kecelakaan berarti kita sedang membuat konten dari kesedihan orang lain?
Atau justru ada cara lain untuk mengambil pelajaran tanpa harus menghakimi siapa pun?
Menurut saya, jawabannya ada di batas antara belajar dan mengeksploitasi.
Kita boleh belajar dari sebuah musibah.
Kita boleh membicarakan keselamatan.
Kita boleh mengevaluasi penyelenggaraan sebuah kegiatan.
Kita boleh mengingatkan sesama pesepeda agar lebih berhati-hati menghadapi medan yang berat.
Anda sedang membaca kisah klasik ini yang akan terus anda baca sampai selesai di blog :
Tetapi semua itu harus dilakukan setelah kita menghormati korban terlebih dahulu.
Jangan menjadikan dugaan sebagai fakta.
Jangan menjadikan kesalahan sebagai kesimpulan sebelum ada kepastian.
Dan jangan sampai kesedihan keluarga seseorang berubah menjadi sekadar angka view, komentar, atau engagement.
Kalau akhirnya tulisan ini tetap saya selesaikan di hari berikutnya di uplot, maka bukan karena saya ingin mencari siapa yang salah.
Saya menulis karena saya ingin mengingatkan diri sendiri dan teman-teman pesepeda:
Sepeda memang membawa kita ke banyak tempat bahkan di berbagai event gratis atau berbayar mahal dengan jatak tempuh bervariasi.
Tetapi setiap tempat mempunyai karakter dan risikonya sendiri.
Bahkan untuk Jarak 100 kilometer, 200 kilometer atau di atas jarak itu pasti menemui berbagai : tanjakan, turunan, jalan sepi maupun jalan ramai, semuanya membutuhkan persiapan dan kewaspadaan diri dalam konsentrasi.
Tidak ada satu pun dari kita yang benar-benar tahu apa yang akan terjadi di kilometer berikutnya.
Maka mungkin, pelajaran terbesar dari hari ini bukan tentang siapa yang kurang berpengalaman.
Bukan tentang siapa yang terlalu berani.
Bukan pula tentang siapa yang salah.
Tetapi tentang bagaimana kita semua pulang dengan selamat kembali kepada keluarga tercinta.
Karena pada akhirnya, tujuan terbesar dari sebuah perjalanan bukanlah menyelesaikan jarak, melainkan bisa kembali pulang dengan kabar baik.
Untuk Mbak Astaria dan Pak Tomi Wakidi,
semoga Allah mengampuni segala kekhilafan, menerima amal baiknya, dan menempatkan keduanya di tempat terbaik di sisi-Nya.
Untuk keluarga yang ditinggalkan, semoga diberikan kekuatan dan ketabahan....Al-Fatihah.
Dan untuk kita yang hari ini masih diberi kesempatan mengayuh:
Mari belajar dari musibah, tetapi jangan menjadikan musibah sebagai tontonan.
Kalau ada yang harus dibawa pulang dari cerita hari ini, biarlah itu menjadi kesadaran:
Gowes bukan hanya soal berani berangkat.
Gowes juga tentang tahu kapan harus berhati-hati.
Itulah cerita perjalanan duka hari ini.
STORY FINAL - SABTU, 3 OKTOBER 2026 - KULONPROGO BERDUKA.
Hari ini dunia gowes Jogja diliputi duka. Dua nyawa hilang di hari dan medan yang sama.
*KEJADIAN 1 - PUKUL 09.00 WIB - SAMIGALUH*
Sekitar pukul 09.00 WIB, seorang perempuan berinisial AM, usia 32 tahun, warga asal Ngaglik, Kabupaten Sleman, tengah mengayuh di kawasan Jalan Samigaluh-Loano.
Tepat di tanjakan Dusun Ngaglik, Desa Pagerharjo, Kecamatan Samigaluh, malapetaka itu datang.
Di ruas jalanan yang menurun sangat tajam, sepeda yang dikendarainya diduga kuat mengalami malfungsi pada sistem pengereman alias rem blong. Ia meluncur deras tanpa kendali hingga akhirnya menghantam keras sebuah tiang listrik di tepi jalan.
Warga sekitar dan petugas bergegas mengevakuasi tubuh AM ke Puskesmas Samigaluh II menggunakan ambulans dengan harapan ada mukjizat, namun tim medis dengan berat hati menyatakan ia telah menghembuskan napas terakhirnya.
Tadi sempat beredar info Mbak Astaria masih SMA dari Concat, mungkin itu panggilan akrabnya di grup. Tapi dari info resmi, beliau usia 32 tahun. Tetap adik kita, tetap newbie yang baru mencoba Audax 200 km pertama.
KEJADIAN 2 - PUKUL 12.10 WIB - KARANGSARI.
Siang harinya, sekitar pukul 12.10 WIB, duka kedua datang.
Seorang pria lanjut usia berinisial W (64), warga Pakualaman, Yogyakarta - yang kita kenal sebagai Pak Tomi Wakidi, gobar Kasepuhan - mengayuh sepeda onthel warna kuning kesayangannya dari arah barat menuju timur, melintasi jalanan Karangsari, Kulonprogo.
Tak ada benturan dari kendaraan lain, tak ada gesekan keras. Tiba-tiba sepeda kuning itu hilang kendali. Beliau terjatuh ke badan jalan secara mendadak.
Meski fisik luar tak menunjukkan luka benturan parah, takdir berkata lain. Korban dinyatakan meninggal dunia di TKP tak lama setelah terjatuh.
Foto sepeda pak W.
Dua kejadian, dua pelajaran.
Satu karena *teknik dan medan*: turunan Samigaluh yang curam, rem blong, mungkin karena pengereman terus-menerus yang belum familiar buat peserta baru Audax. Yang dulu di Gowes Pahlawan saja dijaga marshal khusus di tiap titik ekstrem, sekarang di Audax, gowes diuji, raono sek njagani.
Satu karena *fisik dan takdir*: di atas sadel sepeda roadbike warna kuning di jalan nanjak pun bisa berpulang.
Dan saya hanya bisa jawab dari pertanyaan di atas tadi :
Bagaimanapun Doa itu wajib,mas n nte sekalian.Tapi belajar dari musibah seperti ini juga wajib. Supaya besok tidak ada lagi Mbak AM dan Pak W yang lain.*
Al-fatihah untuk Mbak AM 32 tahun dari Ngaglik dan Pak W 64 tahun dari Pakualaman. Semoga husnul khotimah.
Selesai.
Jogja, 3 Oktober 2026
23.00 WIB
Penulis
Iyink ws.
NB : Menurut saya, jawaban terbaik tulisan ini “sekadar untuk konten”. Justru tulisan menjadi orang yang ikut berkabung, lalu mengajak pembaca mengambil pelajaran keselamatan tanpa mengklaim tahu penyebab kecelakaan.
Tetapi dari hasil pencarian publik yang saya lakukan ada laporan terverifikasi yang menjelaskan dua kejadian tersebut secara lengkap, jadi lebih aman tidak menuliskannya sebagai fakta tetapi setelah beberapa hari ada berkas perkara dari pihak berkepentingan setelah itu tulisan blog ini di posting di hari senin 5 oktober 2026.
Bila ada salah kata dan pengikatan persepsi penulis mohon maaf adanya.
Salam Gowes dari Jogja.

