Senin, 10 Agustus 2026

Bandar Lampung aku datang !


Sebuah hubungan yang paling sering bikin orang lain emosi yaitu saat saya bercerita tentang :
*"Pulau Sumatra"*  
Aku belum pernah ke kota ini sebelumnya.  
Tapi hari ini kayuhanku yang pertama kali menulis namamu di ....!?
Bisa melihat bukit, laut, dan jalananmu... rasanya kayak nemu kenangan yang belum pernah aku punya.  
Untuk kalian yang belum bisa ikut gowes, aku maafin.  
Karena capek ini terlalu indah untuk dibagi dengan amarah.  

Ini ceritaku. Ini Sumatra pertamaku.


Foto : Mampir foto di tugu Bandar lampung dan muatan sepedaku saat bersepeda lipat menuju jalanan yang asing bagiku. 



Anda sedang membaca kisah klasik ini yang akan terus anda baca sampai selesai.

Kita mulai hari ini untuk melanjutkan titik finis cerita perjalanan Jamnas 4 jakarta setelah beberapa tahun lalu pernah Gowes dari Jogja ke Ujung Kulon Pulau Jawa kini dilanjutkan lagi mulai star menuju Pulau Sumatera untuk mengikuti jamnas 6 Lampung.

Perjalanan dari Jogja baru gowes ke Bakauheni lalu Menapaki Jejak sepeda Menuju Jamnas 6 Lampung

Kita berangkat mulai dari terminal Giwangan untuk naik bus Handoyo jurusan Jogja merak pada tanggal 21 Juli 2024 jam 17.00 waktu meninggalkan kota Jogja di hari Minggu sore menjelang petang hari ini cuaca cerah dan saat naik bus Handoyo Selama perjalanan selain hanya melihat kelap-kelip lampu, makan malam dari pool bus ,itu hanya bisa lihat malam yang gelap hal ini ambil enaknya untuk tidur saja biar besok pagi bisa seger bugar untuk Gowes.


Fedjo Budhal jamnas 6 Lampung.

Baru esok paginya tiba di terminal Merak kemudian mencari sarapan pagi di warung makan sambil merencanakan hari ini.
Di pinggiran jalan kita mencari loket jualan tiket kapal feri ini bisa dilakukan lewat aplikasi atau sekedar setor KTP dan uang tambahan agar bisa melakukan penyeberangan kapal.

Anda sedang membaca kisah klasik ini yang akan terus anda baca sampai selesai.

Kapal hari ini bisa dipilih kelas reguler ataupun eksekutif ini hanya soal bahagianya saja karena semakin menarik lagi kalau pada datangnya pas bareng para federalis maka jadi seru dan bisa sewa satu kapal sekalian lalu kita bisa Kibarkan bendera MTB FI yang gede di atas Dek kapal ..... Sangar to bro !?.

Maaf ......mas,Ini nggak usah disewa kapalnya asal ketemu saat masuk beriringan saja pasti udah penuh dek kapalnya oleh teman-teman sepeda federalis.

Beberapa tempat yang akan dituju ;
1. 0 Km Sumatera yaitu Menara Siger Bakauheni.
2. Lokasi acara Jamnas 6 di pantai Tanjung selaki Lampung Selatan.
3. Tugu gajah Adipura Bandar Lampung.
4. 0 KM Bandar Lampung di taman Diponegoro depan Polda Lampung Teluk Betung.

Sampai jumpa di cerita gowes berikutnya. 

Selesai


Kamis, 16 Juli 2026

Malioboro, JLFR, dan Sebuah Kota yang Sedang Mencari Ruang.


Malam itu di acara jlfr ke 194 di hari jumat terakhir di bulan juni 2026 seakan kota Jogja kembali dipenuhi cahaya lampu sepeda. Ratusan, mungkin ribuan pesepeda bergerak bersama dalam satu irama. Ada yang datang dengan sepeda mahal, ada yang datang dengan sepeda tua yang catnya mulai pudar. Ada yang mengayuh sambil tertawa, ada yang mengayuh sambil berteriak lantang tanpa basa basi kepada lingkungan dari sebagian oknum pesepeda. 

JLFR merupakan gerakan yang cair dan tidak memiliki struktur kepengurusan
Di atas sadel yang sama, ternyata tujuan mereka tidak selalu sama.
Ada yang datang karena penasaran.
Ada yang datang karena ingin menjadi bagian dari keramaian.
Ada yang datang karena percaya sedang memperjuangkan sesuatu.
Dan ada pula yang datang karena merasa harus mengatur semuanya.

Dan kaum FOMO: Yang tak ingin ketinggalan cerita gowes dan mereka datang karena JLFR sedang ramai dibicarakan.
Tak lupa foto-fotonya berseliweran di media sosial. Video-videonya muncul di beranda. Teman-temannya ikut maka mereka pun juga ikut.
Bagi kelompok ini, jalanan adalah panggung. Semakin ramai semakin menyenangkan. Mereka ingin merasakan sensasi berada di tengah lautan pesepeda yang bergerak bersama.


Itu terasa banget ya,ini keresahan anak Jogja sekarang. Apalagi sebut saja,bagi para pentolan pada jamanya mulai turun gunung dan mulai menilai jlfr 2026 kali ini, Katanya : JLFR itu tumbuh organik setelah mereka tinggalkan.

Para pesepeda itu memiliki alasan yang beragam tentang memastikan kenyamanan di ruang publik secara umumnya.
Sedangkan pihak pemerintah juga memiliki alasan jadi kedua pihak itu tidak ada pihak yang sepenuhnya salah.

Anda sedang membaca kisah klasik ini yang akan terus anda baca sampai selesai.

Tidak ada yang salah.
       Setiap gerakan besar memang selalu menarik orang-orang yang ingin menjadi bagian dari sebuah peristiwa.
Namun kadang mereka lupa bertanya:
"Setelah malam ini selesai, apa yang sebenarnya sedang diperjuangkan?"
Mereka,Yang Ingin di jalanan bisa mendengar aksinya!! 

Perlu diketahui, polemik ini bermula terjadi pada 26 Juni 2026 saat pelaksanaan JLFR ke-194. Saat itu, para pesepeda yang hendak masuk ke kawasan Malioboro dihadang oleh aparat setempat.

Di antara kerumunan itu ada kelompok lain.
Mereka percaya bahwa jalan raya terlalu lama dimiliki kendaraan bermesin.
Mereka merasa pesepeda hanya menjadi tamu di kotanya sendiri.
Maka ketika ribuan sepeda memenuhi jalan, mereka merasa sedang mengirim pesan.
Bahwa jalan bukan hanya milik mesin.
Bahwa kota bukan hanya milik kendaraan yang paling cepat dan berpajak resmi !? 


Bahwa pesepeda juga berhak terlihat.
Mereka tidak sedang mencari keributan.
Mereka sedang mencari "Pengakuan".
Sayangnya, seperti banyak gerakan lain, pesan yang ingin disampaikan kadang kalah keras oleh cara penyampaiannya.
Kaum apresiasi ini yang hanya ingin bersepeda.
Sedangkan di sudut lain ada kelompok yang lebih tenang.
Mereka menikmati JLFR bukan sebagai aksi.
Bukan pula sebagai perlawanan.
Mereka hanya menikmati pemandangan yang jarang terjadi.

Perilaku...Itu bukan logika satu orang tetapi konsep & fakta last Friday ride emang begitu. 

Melihat ribuan orang mengayuh bersama.
Melihat sepeda menjadi pusat perhatian.
Melihat kota yang biasanya dikuasai kendaraan bermesin berubah menjadi lautan roda dua tanpa mesin.
Mereka percaya bahwa bersepeda tidak selalu harus menjadi perlawanan.
Kadang cukup menjadi perayaan.
Perayaan atas kebebasan bergerak.
Perayaan atas kesehatan.
Perayaan atas persahabatan dan kebersamaan. 

Sedangkan para Pejabat setempat : Menjaga kota tetap bergerak dengan siklus...!! 
Di sisi lain, para pejabat dan pengatur lalu lintas menghadapi persoalan yang berbeda.
Mereka tidak melihat satu kelompok.
Mereka melihat seluruh kota.
Mereka harus memikirkan wisatawan yang datang ke Malioboro.
Pedagang yang mencari nafkah.
Ambulans yang mungkin harus melintas.
Warga yang ingin pulang ke rumah atau pergi ke stasiun kereta.
Karena itu, ketika jumlah pesepeda semakin besar, pengalihan rute dianggap sebagai solusi.

Sedangkan bagi sebagian pesepeda, itu terasa seperti pembatasan dengan istilah di "Tutup" ataupun pernyataan baru dengan istilah "Pengalihan" buka tutup jalan. 
Bagi pemerintah, itu dianggap pengaturan dan itu sudut pandang yang sama-sama merasa benar untuk...!! Ketika eforia anak anak muda bersepeda di jalur padat Malioboro yang Lebih besar pasukan barisan pesepeda dari sebuah Jalan.

Andaikan,Perdebatan ini sebenarnya bukan tentang Malioboro,Bukan pula tentang JLFR Melainkan tentang bagaimana sebuah kota membagi bagi ruang jalan bagi semua penghuninya,Karena bagi sebagian pesepeda, Malioboro adalah sejarah,Mereka !!.

Foto : Brosur episode jlfr 194 di jumat terakhir di bulan juni 2026

Poin penting !?
1.Jlfr itu gerakan organik.
    Nggak ada ketua,bukan komunitas, nggak ada panitia, nggak ada seragam dan nggak ada yang ngomando sebagai pentolan.
2.Lahir dari energi secara alami. 
    Saat anak muda libur sekolah di bulan Juni kemarin mereka gabut maka daripada nongkrong nggak jelas,tawuran... mending sepedaan rame-rame....malah di larang!? 
Apalagi....Mereka jangan di tanya siapa yang danain karena nggak ada.
JLFR lahir karena gabut,
karena marah, 
karena capek,
karena akhirnya ada tempat buat lari dari realita keberanian...!!. 
Ini gerakan organik.
Meledak sendiri.
Seperti bunyi klakson,Tat...tut...tit. 
Dan yang membisingkan. ya keadaan.
3.Bukan baru saja gerakan ini muncul. 
    Malioboro ditutup buat Last Friday Ride sudah dari bulan lalu. Cuma baru rame banget pas bulan Juni,Jebol ekspresinya !!.
Jadi ini bukan "digerakin" atau "dibayar". Ini benar benar mulai meledak sendiri.

Lalu istilah di tutup jalan Malioboro kembali beralih ke di alihkan.
Menjadi media penyampaian di media lokal ,facebook dan instragram juga merasa bersalah bila tidak ikut siar ada berita terbaru tentang Malioboro dan Jlfr. 

Sedangkan bagi ekosistem Malioboro adalah penghidupan bagi pedagang dan bagi wisatawan, Malioboro adalah tujuan.
Dan bagi pemerintah, Malioboro adalah tanggung jawab dari siapa pemegang aturannya dan semua merasa memiliki alasan yang sah.


Berepeda Tidak Membutuhkan Gengsi.
       Pada akhirnya, jalanan akan selalu menjadi ruang pertemuan berbagai kepentingan.
Ada yang ingin terlihat.
Ada yang ingin didengar.
Ada yang ingin diperhatikan.
Ada yang hanya ingin sampai tujuan.
Namun sepeda mengajarkan sesuatu yang "Sederhana".
Roda tidak pernah bertanya siapa yang paling penting.
Pesepeda tidak pernah bertanya siapa yang paling berkuasa itu pada suka bersepeda atau tidak. 

Penulis Blogger-droid :
Iyinkws.blogspot@com

Pesepeda tidak mengenal jabatan, jumlah pengikut media sosial, ukuran komunitas, ataupun harga sebuah sepeda sultan maupun ecek ecek. 
Ketika dengkul kaki sebagai ukuran untuk mulai mengayuh, semua akan kembali menjadi manusia yang sama menderitanya bahkan tersiksa oleh keadaan jalanan menjadi gambaran cara pandang goweser menghadapi rintangan tanjakan dan turunan ,seperti apa menjadi ketagihan nih, sebagai hobi banget,lalu dalam situasi ini. .mungkin piknik bersepedamu kurang jauh, mas bro !? .

Maka harapan terbesar bukanlah siapa yang memenangkan perdebatan tentang jalan milik siapa dan di tapak oleh siapa !? 
Melainkan lahirnya kesadaran bahwa bersepeda bukan soal gengsi untuk berbicara paling keras.
Bukan pula soal eksistensi untuk terlihat paling hebat.
Melainkan tentang kemampuan untuk berbagi ruang, menghargai sesama pengguna jalan, dan menjaga agar setiap putaran roda tetap membawa kebaikan yang lebih bike, an....Amin. 

Sebab pada akhirnya, yang membuat seseorang layak berbicara tentang bersepeda bukanlah seberapa sering ia memenuhi jalanan.
Tetapi seberapa besar ia mampu menghadirkan "Manfaat" bagi orang lain melalui setiap kayuhan yang ia lakukan.


Aku dan kamu  !?.
Di sini tidak sedang menghakimi JLFR, tidak membela pemerintah, dan juga tidak menyerang yang tidak suka gowes sekalipum. 
Sepertinya kata ini untuk kamu, Ya, kamu yang merasa sudah meluapkan ada emosi ,iso tenang, sabar, sek,ya mas bro!? 
Ada pesan dari barisan cah lama dan yang lagi Fomo gowes yang sedang dicoba dipahami,oleh penulis ini. 

Padahal mereka kenyataannya satu orang bisa sekaligus menjadi pesepeda :
"Ada yang datang karena penasaran."
"Ada yang datang karena ingin didengar."
"Ada yang datang karena sekadar ingin bersepeda."

Bagian para "Pentolan turun gunung"
      Mungkin saja karena situasi ini,muncul  nama-nama lama pada jamannya yang pernah menghidupi JLFR ikut muncul kembali dalam percakapan dimedia sosial dan sebagian memilih bicara, sebagian memilih diam. Mereka melihat sesuatu yang dulu mereka kenal, tetapi kini tumbuh dengan wajah yang berbeda ada yang lucu, genit,maka ada istilah yang perlu di perbandingkan bahkan di luruskan. 

Penulis juga merasa ada bagian yang paling penting justru belum muncul ...!!?

Kenapa anak-anak muda itu sekarang memilih JLFR? Bukan komunitas yang sudah ada di Jogja lainnya yang gowesnya bukan malam sabtu ?

Karena kalau hanya bicara Malioboro,gowes di situ situ saja juga akan cepat basi.
Tetapi kalau bicara kegelisahan anak muda Jogja, tulisan ini akan tetap relevan di beberapa tahun lagi bagi pesepeda dan lingkungan mereka tempat berpijak ban rodanya. 

Misalnya:
Ada ruang untuk merasa bahwa mereka masih menjadi bagian dari kota ini.

JLFR 2026: Ketika Anak Muda Mencari Ruang di Kotanya Sendiri.
Nah, ini kuat sekali untuk di perjuangkan ke generasi pesepeda berikutnya !? 


Penutup.
      Menurut bayangan penulis....Mungkin suatu hari nanti perdebatan tentang Malioboro akan selesa dan rute bisa berubah dan bahkan aturan bisa berganti.
Pemerintah bisa datang dan pergi pada aturan jalur bersepeda.
" Namun " selama masih ada anak-anak muda yang memilih mengayuh sepeda daripada saling melukai dengan beradu argumen salah benarnya di situ masih ada "Harapan yang patut dijaga "

Sebab jalan bukan hanya tempat untuk lewat.
Jalan adalah tempat sebuah kota belajar hidup bersama mencari identitas yang aman, nyaman dan istimewa bagi pelakunya tetapi pelaku di sebuah kota "Kota yang lagi mencari keseimbangan " 


Kesimpulan
     Tulisan ini menurut penulis tidak perlu menjadi tulisan tentang Malioboro.
Tulisan ini lebih kuat jika menjadi tulisan tentang "Mengapa JLFR meledak di tahun 2026?"
Karena jawaban atas pertanyaan itu bukan sekadar soal sepeda tetapi kondisi kota jogja yang sebenarnya. 

Mungkin yang sedang diperebutkan bukanlah Malioboro, melainkan ruang untuk merasa menjadi bagian dari Jogja.

Itu yang membuat ceritanya bersepeda di jogja itu menarik di fahami dan Bersepeda dengan Cara berbeda " Tapi selaras di sebuah kota pesepeda dari sekadar debat pesepeda versus pemangku aturan kota menjelang acara jogja last friday ride ke 195 di hari jumat malam terakhir di bulan juli 2026 nanti,Semoga aman lancar dan terbaik untuk semua pelakunya. ..Amin. 



Malam hampir selesai.
Lampu-lampu Malioboro masih menyala seperti biasa dan keramaian perlahan menghilang.
Suara tawa, bel sepeda, dan percakapan yang tadi memenuhi jalan kini tinggal kenangan yang tertinggal di udara malam.
Para pesepeda sudah pulang.
Yang tersisa hanyalah sebuah sepeda yang bersandar di tepi jalan, ditemani cahaya lampu kota yang tak pernah benar-benar padam.
Seolah mengingatkan bahwa perdebatan akan berlalu, generasi akan berganti, rute akan berubah, tetapi harapan akan sebuah kota yang ramah bagi semua akan selalu menemukan jalannya sendiri.
Sebab jalan bukan hanya tempat untuk lewat.
Jalan adalah tempat sebuah kota belajar hidup bersama.

Selesai 

Oleh :
Wiwing "Iyink" WS

Blog Edisi unggulan

Bandar Lampung aku datang !

Sebuah hubungan yang paling sering bikin orang lain emosi yaitu saat saya bercerita tentang : *"Pulau Sumatra"*   Aku belum pernah...