Senin, 05 Oktober 2026

STORY PESEPEDA HARI INI Samigaluh, 3 Oktober 2026. Hari itu Kulonprogo berduka. Jogja ikut merasakan kehilangan.


Berita Update. 
Kabar duka datang dari medan bersepeda di kawasan Samigaluh, Kulonprogo. Dua pesepeda dikabarkan meninggal dunia pada hari yang sama, tetapi dalam kondisi dan lokasi yang berbeda.

Kabar pertama datang dari seorang peserta Audax 200 kilometer, Mbak Astaria.
Dan yang menurut informasi yang beredar peserta event gowes berjarak dan beliau mengalami kecelakaan di turunan kawasan Samigaluh, dalam perjalanan Audax 200 kilometer. Namun, untuk kronologi lengkap dan penyebab pasti kejadian, tentu kita harus menunggu informasi resmi dari pihak yang berwenang.

Nama Mbak Astaria kemudian menjadi perbincangan di grup-grup pesepeda.
Ada yang mengatakan bahwa beliau masih sangat muda. Ada pula yang mengenalnya sebagai teman sekolah. Ada yang kemudian mengaitkan kejadian ini dengan pengalaman bersepeda dan tantangan rute 200 kilometer.
Dari situlah berbagai pendapat mulai bermunculan.
Ada yang mengatakan:
“Newbie kok langsung tekan Samigaluh.”
Ada pula yang mengingatkan bahwa medan seperti Samigaluh mempunyai karakter jalan yang berbeda dengan rute datar. Turunan panjang, tanjakan, serta perubahan kondisi jalan memang membutuhkan kewaspadaan dan kemampuan mengendalikan sepeda.

Tetapi di titik ini saya berhenti agar pembaca paham terlebih dahulu :
Sebab kita ini tidak berada di lokasi kejadian.
Kita tidak melihat bagaimana peristiwanya terjadi pastinya. 

Kita juga tidak tahu secara pasti kondisi korban, kondisi sepeda, kondisi jalan, maupun faktor lain yang mungkin berperan.
Karena itu, menurut saya, tidak tepat apabila dugaan dari percakapan grup kemudian dianggap sebagai penyebab pasti sebuah kecelakaan....nah?. 

Kabar duka 2 datang dari Pak Tomi Wakidi.
Beliau dikenal oleh teman-teman gowesnya sebagai bagian dari komunitas Gobar Kasepuhan.
Informasi yang beredar menyebutkan bahwa beliau mengalami kejadian di medan tanjakan di Kulonprogo.

Foto pak W tanpa seragam di kraton Pakualaman jogja. 



Teman-temannya kemudian mengenang sosok Pak Wakidi. Ada yang mengenalnya sebagai orang dari warga Puropakualaman, dekat dengan lingkungan kraton Puro Pakualaman. Ada pula cerita dari teman lain yang mengenalnya sejak bekerja sebagai penambal ban dan sering berada di Warjo tempat pospit area utara Jogja.

Namun sekali lagi, cerita tentang sosok beliau adalah bagian dari kenangan teman-temannya. Untuk penyebab pasti meninggalnya beliau, kita tidak seharusnya membuat kesimpulan sendiri hanya berdasarkan percakapan di WhatsApp.

Dan akhirnya, pada hari yang sama, dunia goweser Jogja kehilangan dua orang.
Satu masih sangat muda dan sedang menjalani perjalanan panjangnya mencari identitas diri.
Satu lagi adalah senior yang sudah lama menjadi bagian dari perjalanan dunia gowes road bike. 
 
Mereka.....!? 
Dua generasi.
Dua perjalanan.
Dua keluarga yang hari ini harus menerima kehilangan.

Di tengah percakapan itulah muncul sebuah pertanyaan yang sebenarnya juga ditujukan kepada saya sebagai penulis.

Ada yang berkata:
“Arep go opo mas takon-takon di grup gowes masalah musibah nek Samigaluh ?”
Kemudian Pak Eko ikut nyletuk menjawab:
“Wes ra ono orangnya, dongake wae cukup ben husnul khotimah.”

Pak Edi juga mulai urun komen untuk menjelaskan bahwa komentarnya bukan bermaksud menyalahkan korban,tetapi hanya mencoba memahami kemungkinan bahwa medan turunan panjang mungkin belum terlalu familiar bagi peserta atau bagi beliau mungkin saja kondisional kurang fit pas di tanjakan apalagi di paksakan....Penulis bukan sekedar awang awang tempatnya tetapi juga pernah melewati jalan itu bersepeda atau motoran yang makadam rutenya jadi paham alurnya. 

Lalu ada pesan lain yang mengingatkan:
“Wis didoakan wae bung... rasah gawe-gawe konten tentang musibah.”
Dan jujur saja...!!?
Di situlah saya diam... (jawaban ada di alinea bawah) 
Karena saya adalah pesepeda dan penulis....Nganu !? 
Saya terbiasa melihat sebuah perjalanan goweser Jogja dan sekitarnya seperti ada story ina inu dan itu kembali kuceritakan kembali di blog dan instragram sebagai pengingat bagi banyak orang ..agar semua paham inilah dunia hobi bersepeda dan itulah ceritanya di sekitar kita. 

Ini bukan hanya gowes meteka dari tempat yang dituju, tetapi juga dari cerita yang tertinggal setelah perjalanan itu selesai ada kenangan membawa susah,senang, kecapaian, frustasi bahkan saatnya ada yang meninggal dunia seperti cerita kali ini. 

Namun kali ini saya bertanya kepada diri sendiri:
Apakah musibah harus selalu dijadikan cerita?
Apakah belajar dari sebuah kecelakaan berarti kita sedang membuat konten dari kesedihan orang lain?
Atau justru ada cara lain untuk mengambil pelajaran tanpa harus menghakimi siapa pun?

Menurut saya, jawabannya ada di batas antara belajar dan mengeksploitasi.
Kita boleh belajar dari sebuah musibah.
Kita boleh membicarakan keselamatan.
Kita boleh mengevaluasi penyelenggaraan sebuah kegiatan.
Kita boleh mengingatkan sesama pesepeda agar lebih berhati-hati menghadapi medan yang berat.

Anda sedang membaca kisah klasik ini yang akan terus anda baca sampai selesai di blog :

Tetapi semua itu harus dilakukan setelah kita menghormati korban terlebih dahulu.
Jangan menjadikan dugaan sebagai fakta.
Jangan menjadikan kesalahan sebagai kesimpulan sebelum ada kepastian.
Dan jangan sampai kesedihan keluarga seseorang berubah menjadi sekadar angka view, komentar, atau engagement.

Kalau akhirnya tulisan ini tetap saya selesaikan di hari berikutnya di uplot, maka bukan karena saya ingin mencari siapa yang salah.
Saya menulis karena saya ingin mengingatkan diri sendiri dan teman-teman pesepeda:
Sepeda memang membawa kita ke banyak tempat bahkan di berbagai event gratis atau berbayar mahal dengan jatak tempuh bervariasi. 
Tetapi setiap tempat mempunyai karakter dan risikonya sendiri.
Bahkan untuk Jarak 100 kilometer, 200 kilometer atau di atas jarak itu pasti menemui berbagai : tanjakan, turunan, jalan sepi maupun jalan ramai, semuanya membutuhkan persiapan dan kewaspadaan diri dalam konsentrasi. 

Tidak ada satu pun dari kita yang benar-benar tahu apa yang akan terjadi di kilometer berikutnya.
Maka mungkin, pelajaran terbesar dari hari ini bukan tentang siapa yang kurang berpengalaman.
Bukan tentang siapa yang terlalu berani.
Bukan pula tentang siapa yang salah.
Tetapi tentang bagaimana kita semua pulang dengan selamat kembali kepada keluarga tercinta. 

Karena pada akhirnya, tujuan terbesar dari sebuah perjalanan bukanlah menyelesaikan jarak, melainkan bisa kembali pulang dengan kabar baik. 

Untuk Mbak Astaria dan Pak Tomi Wakidi,
semoga Allah mengampuni segala kekhilafan, menerima amal baiknya, dan menempatkan keduanya di tempat terbaik di sisi-Nya.
Untuk keluarga yang ditinggalkan, semoga diberikan kekuatan dan ketabahan....Al-Fatihah.

Dan untuk kita yang hari ini masih diberi kesempatan mengayuh:
Mari belajar dari musibah, tetapi jangan menjadikan musibah sebagai tontonan.
Kalau ada yang harus dibawa pulang dari cerita hari ini, biarlah itu menjadi kesadaran:
Gowes bukan hanya soal berani berangkat.
Gowes juga tentang tahu kapan harus berhati-hati.

Itulah cerita perjalanan duka hari ini dan ada sedikit tambahan cerita soal teknis bersepeda antara lain :

Sebelum melihat foto sepedanya, saya sempat berpikir, jangan-jangan ada persoalan pada teknik pengereman. Apalagi jika saat turunan panjang rem ditekan terus-menerus. Rem yang bekerja terus-menerus bisa mengalami peningkatan panas dan kinerjanya dapat menurun atau sering di sebut 'nyeplos'.

Foto : sepeda mbak Am. 

Di sinilah teknik pengereman menjadi penting. Saat menghadapi turunan panjang, pengereman sebaiknya dilakukan secara bertahap dan terkontrol, tidak terus-menerus menekan tuas rem.

Sekali lagi, ini hanya dugaan dari sudut pandang pengereman, bukan kesimpulan mengenai penyebab kejadian. Penyebab sebenarnya tentu harus berdasarkan pemeriksaan dan informasi yang valid.
Karena dalam bersepeda, yang kita cari bukan sekadar cepat sampai di bawah, tetapi bagaimana kita tetap bisa sampai rumah dengan selamat itu saja. 


STORY SUDAH FINAL - SABTU, 3 OKTOBER 2026 - KULONPROGO BERDUKA.

Hari ini dunia gowes Jogja diliputi duka. Dua nyawa hilang di hari dan medan yang sama.

KEJADIAN 1 - PUKUL 09.00 WIB - SAMIGALUH.
Sekitar pukul 09.00 WIB, seorang perempuan berinisial AM, usia 32 tahun, warga asal Ngaglik, Kabupaten Sleman, tengah mengayuh di kawasan Jalan Samigaluh-Loano.

Tepat di tanjakan Dusun Ngaglik, Desa Pagerharjo, Kecamatan Samigaluh, malapetaka itu datang.

Di ruas jalanan yang menurun sangat tajam, sepeda yang dikendarainya diduga kuat mengalami malfungsi pada sistem pengereman alias rem blong. Ia meluncur deras tanpa kendali hingga akhirnya menghantam keras sebuah tiang listrik di tepi jalan.

Warga sekitar dan petugas bergegas mengevakuasi tubuh AM ke Puskesmas Samigaluh II menggunakan ambulans dengan harapan ada mukjizat, namun tim medis dengan berat hati menyatakan ia telah menghembuskan napas terakhirnya.

Tadi sempat beredar info Mbak Astaria masih SMA dari Concat, mungkin itu panggilan akrabnya di grup. Tapi dari info resmi, beliau usia 32 tahun. Tetap adik kita, tetap newbie yang baru mencoba Audax 200 km pertama.

KEJADIAN 2 - PUKUL 12.10 WIB - KARANGSARI.
Siang harinya, sekitar pukul 12.10 WIB, duka kedua datang.

Seorang pria lanjut usia berinisial W (64), warga Pakualaman, Yogyakarta - yang kita kenal sebagai Pak Tomi Wakidi, gobar Kasepuhan - mengayuh sepeda onthel warna kuning kesayangannya dari arah barat menuju timur, melintasi jalanan Karangsari, Kulonprogo.

Tak ada benturan dari kendaraan lain, tak ada gesekan keras. Tiba-tiba sepeda kuning itu hilang kendali. Beliau terjatuh ke badan jalan secara mendadak.

Meski fisik luar tak menunjukkan luka benturan parah, takdir berkata lain. Korban dinyatakan meninggal dunia di TKP tak lama setelah terjatuh.

Foto sepeda pak W. 


Dua kejadian, dua pelajaran.
Satu karena *teknik dan medan*: turunan Samigaluh yang curam, rem blong, mungkin karena pengereman terus-menerus yang belum familiar buat peserta baru Audax.

Yang dulu misalnya ada contoh di Gowes Pahlawan saja dijaga marshal khusus di tiap titik ekstrem, sekarang di Audax, gowes diuji, raono sek njagani....itu kata komentarnya grup whatsapp. 

Satu karena *fisik dan takdir*: di atas sadel sepeda beliau di jalan nanjak turunan pun bisa berpulang.

Dan saya hanya bisa jawab dari pertanyaan di atas tadi :
Bagaimanapun Doa itu wajib,mas n nte sekalian.Tapi belajar dari musibah seperti ini juga wajib. Supaya besok tidak ada lagi Mbak AM dan Pak W yang lain lagi. 

Penulis berdoa terbaik untuk beliau dengan kalimat di akhir cerita ini : Al-fatihah untuk Mbak AM 32 tahun dari Ngaglik dan Pak W 64 tahun dari Pakualaman. Semoga husnul khotimah...Amin. 

Selesai.
Jogja, 3 Oktober 2026
23.00 WIB
Penulis
Iyink ws. 

NB : Menurut saya, jawaban terbaik tulisan ini “sekadar untuk konten”. Justru tulisan menjadi orang yang ikut berkabung, lalu mengajak pembaca mengambil pelajaran keselamatan tanpa mengklaim tahu penyebab kecelakaan.
Tetapi dari hasil pencarian publik yang saya lakukan ada laporan terverifikasi yang menjelaskan dua kejadian tersebut secara lengkap, jadi lebih aman tidak menuliskannya sebagai fakta tetapi setelah beberapa hari ada berkas perkara dari pihak berkepentingan setelah itu tulisan blog ini di posting di hari senin 5 oktober 2026.

Bila ada salah kata dan pengikatan persepsi kurang maksimal kepada kedua keluarga yang di tinggalkan dengan ini penulis mohon maaf adanya.

Salam Gowes dari Jogja. 


Jumat, 25 September 2026

KTF #10 Kendal, Rasa Pulang kembali ke Fedjo.


Dari perjalanan Jogja menuju Pantai Indah Kemangi, cerita camping, sampai pekerjaan rumah menjaga persaudaraan Federalist.
Saya memang tidak mengayuh Federal menuju Kendal. Kali ini, Federal Honda yang membawa saya melewati kelokan jalan dari Jogja. Tetapi ketika sampai di KTF #10, ternyata yang membuat perjalanan ini berarti bukan soal moda apa yang saya tunggangi, melainkan ada saudara-saudara yang menunggu di ujung perjalanan jalur utara.

Dari Jogja, Menembus Kelokan Menuju Kendal.
Perjalanan kali ini membawa saya dan teman teman Fedjo bersama Federal Honda dari Jogja menuju Pantai Indah Kemangi, Kendal.
Sebuah perjalanan yang bukan sekadar soal jarak, tetapi juga tentang menikmati setiap kilometer, mengenal tempat baru pertamanya datang ke jalur ini dan bertemu saudara-saudara pesepeda dari berbagai daerah dalam kebersamaan KTF #10.
Iyinkws.blogspot@com

Dari Jogja, perjalanan saya lalui melewati Magelang,Temanggung, Weleri, hingga akhirnya memasuki wilayah Kendal. Jaraknya tentu bukan perjalanan yang pendek. Namun, bagi teman-teman yang ingin bersepeda, perjalanan seperti ini bisa menjadi gambaran bahwa sebuah touring bukan hanya tentang seberapa jauh kita mampu melangkah, melainkan juga bagaimana menikmati proses menuju tujuan banyak teman seperjalanan saling sapa. 

Anda sedang membaca kisah klasik ini. Jadi, silakan duduk santai, siapkan kopi atau teh, dan ikuti cerita saya sampai selesai. Siapa tahu, ada bagian yang mengingatkan Anda pada perjalanan bersama saudara-saudara Federalist.
* Ikuti link instagram @iyink_ws

Semakin mendekati tujuan, suasana jalanan mulai berubah seperti ke arah petilasan Bunda maria Ratu. Rute terakhir menghadirkan kelokan-kelokan di dataran tinggi. Tanjakan, tikungan, dan pemandangan alam seolah menjadi teman perjalanan yang membuat mata enggan berpaling.
Ada rasa lelah,Pantat mati rasa tetapi ada pula kebahagiaan tersendiri ketika perjalanan semakin dekat dengan tujuan. Kadang, justru jalan yang berkelok itulah yang membuat sebuah perjalanan punya cerita untuk dikenang atau bahkan wes kapok ora lewat jalan itu lagi. 

Hingga akhirnya, sampailah di ujung jalan tol Semarang Batang kita belok kiri sesuai peta harta karun yang sudah saya buat terlampir. 

Saya di Pantai Indah Kemangi, Kendal.
Pantai Kemangi langsung membasuh tangan dan di kening beberapa tetes dengan Ombak Kecil yang menepi air jernih,Pepohonan cemara cukup rimbun, dan patok tenda yang bikin Berpikir dua kali untuk menancapkan patok tenda ke tanah di selimuti pasir. 
Jalan cor semen yang keras di kawasan pantai menjadi pengalaman tersendiri membuat suasana raga yang lelah ini terasa teduh semilir angin sore menuju malam minggu yang panjang di sini. 

Di sinilah kadang teori camping bertemu kenyataan. Tenda sudah siap, semangat sudah terkumpul, tetapi patoknya justru mengajak kita berdiskusi lebih dahulu dengan tanah. ....bhaaaa!!? 

Begitulah pengalaman kecil yang membuat suasana camping itu terasa lebih berwarna. Sebab, dalam sebuah perjalanan, hal-hal sederhana seperti ini sering kali justru menjadi bahan cerita ketika kita pulang.
Kemangi dan Cerita Masa Lalu yang Masih Hidup sampai kapanpun.

Di balik panorama pantainya, Kemangi juga menyimpan cerita masa lalu.
Di kawasan Jungsemi terdapat Makam Kemangi yang dalam cerita lokal dikaitkan dengan Paseban Kemangi, sebuah tempat yang konon digunakan para tokoh Mataram untuk membicarakan persiapan menghadapi VOC di Batavia.
Cerita tutur masyarakat juga mengenal sosok Ki Ageng Kemangi atau Rajekwesi dan kisah oyot mimang, yang dipercaya sebagai pagar gaib untuk menjaga kerahasiaan pertemuan tersebut.

Kisah-kisah itu menja di bagian dari tradisi lisan dan kepercayaan masyarakat setempat. Namun, sebagaimana diberitakan dalam penelusuran sejarah lokal, belum ditemukan bukti tertulis otentik yang memastikan pertemuan Sultan Agung di Paseban Kemangi. Karena itu, kisah mistis tersebut lebih tepat kita kenali sebagai legenda yang hidup di tengah masyarakat, bukan sebagai fakta sejarah yang sudah terverifikasi.

Menariknya, lokasi Makam Kemangi berada di kawasan yang berbeda arah selatan agak ke barat dari suasana wisata pantai. Tidak jauh dari sana, Pantai Indah Kemangi kini dikenal sebagai tempat rekreasi yang bisa dinikmati bersama keluarga dan sahabat.
Sebuah sisi lain Kendal yang mungkin belum banyak dikenal oleh sebagian orang. Terkadang, kita begitu sibuk mengejar tempat-tempat yang sedang viral, sampai lupa bahwa setiap daerah punya cerita dan sudut pandang menariknya sendiri.

Beri rasa suka, komentar di link blog ini : Iyinkws.blogspot@com

64 Chapter, 800-an Peserta, dan Guyub Rukun Federalist
Dari acara KTF #1 di kota jogja sampai KTF #10 Kendal kali ini terasa istimewa. Menurut catatan acara yang saya ikuti, ada sekitar 64 chapter dengan kurang lebih 800 peserta yang hadir. Angka yang tentu membuat suasana pertemuan semakin ramai.
Namun, bagi saya, kebahagiaan KTF #10 bukan hanya tentang banyaknya peserta, menikmati pemandangan alam pinggiran kota, atau mengabadikan perjalanan dengan menghafalkan jalur peta harta karun.

Ada hal yang jauh lebih berarti: bertemu saudara-saudara pesepeda dari kota lain yang sudah berbeda masanya dengan caranya bercengkerama, saling menyapa untuk berkenalan teman baru lagi dan merasakan guyub rukun yang membuat acara dan kisah perjalanan teman federalist ini terasa istimewa di abadikan falam sebuah cerita.

Federal Kendal : ini om, ada 64 chapter dan sekitar 800an  peserta yg hadir di ktf#10 kendal.

Federal Pekalongan : ini juga om,kami dpt doorprize frame federal Lady dr panpel sbg chapter dgn peserta terbanyak om... Fedlong ada 107 peserta👍, mantap !!.

Di antara sepeda-sepeda Federal, tenda, obrolan, dan suasana pantai, ada kebahagiaan sederhana... yang sulit dijelaskan dengan kata-kata. Kita datang dari berbagai arah, membawa cerita masing-masing, lalu dipertemukan oleh kecintaan yang sama terhadap perjalanan dan persaudaraan di ujung utara pulau jawa selama 2 hari dari tanggal 19-20 september 2026.

Walaupun saya datang dengan moda Federal Honda, semangatnya tetap sama. Sementara itu, teman-teman yang memilih touring dengan sepeda Federal punya cerita perjuangan mereka sendiri....Ada yang  sesuai Masa kita atau kamu seakan berbeda bahkan Sejarah dan semoga berkembang seusai harapan pada Masanya itu terbaik bagi semuanya.... Amin. 

Misalnya dari Federal Jogja, Brayat Kidul Jogja turut ikut gowes mewakili perjalanan dengan sepeda. Sekitar 10–15 orang pesepeda mampu menyelesaikan perjalanan dan tiba di lokasi pada petang hari Sabtu.

Bagi saya, ini menjadi pengingat bahwa perjalanan dengan cara apapum agar sampai ke tempat ini bukan hanya tentang seberapa jauh kita mengayuh, tetapi juga tentang siapa yang kita temui, bagaimana kita saling menguatkan, dan bagaimana kita bisa berjalan bersama dalam semangat seiya sekata ...Kehadiran ke tempat ini adalah jawaban !!.

Pada akhirnya, yang dibawa pulang bukan sekadar foto atau catatan jarak. Ada kenangan yang kelak bisa diceritakan kembali kepada keluarga dan komunitas masing-masing.
Maka cerita tentang sepeda federal tentu bukan soal berapa jauh tetapi betapa dekat ikatan itu di mulyakan untuk kemakmuran para pelakunya bagi mereka yang suka bersepeda federal. 

Fedlong 107 Peserta: Mantap, Om! Lalu Pulang Bawa Apa?
Di tengah kemeriahan KTF #10, ada kabar istimewa: Fedlong hadir dengan 107 peserta. Mantap, Om! 

Jumlah yang tidak sedikit ini menjadi kebanggaan tersendiri bagi chapter. Alhamdulillah, chapter tersebut juga mendapatkan doorprize berupa frame fullset City Cat Lady dari panitia sebagai chapter dengan peserta terbanyak.
Kalau sudah begini, urusan berangkat ke KTF ternyata bukan cuma soal kayuhan, jarak touring, dan persiapan perlengkapan. Ada juga urusan menghitung peserta, mengatur jadwal berangkat-pulang, sampai menanti doorprize.
Jangan-jangan, sebelum berangkat sudah ada yang bertanya di tepi pantai indah kemangi Kendal , “Pesertanya sudah berapa, Om?”

Ktf#10kendal

Lalu ketika acara selesai, pertanyaannya berubah, “Doorprize-nya dapat apa, Om?” 
Ketika saya di tanya : 
Saya jawab pertanyaan itu maka saya dapat 4 hadiah hiburan dari : muk gelas,stang oxo, stem bangau dan kunci bintang. 
Ini bukan soal nilainya tapi....Muncul secara beruntun mendapatkan dorpres di malam puncak panggung acara ktf#10 kendal.  

Begitulah serunya pertemuan komunitas. Ada semangat berangkat bersama, ada kebanggaan membawa nama chapter, dan tentu saja ada cerita lucu yang membuat perjalanan semakin berkesan.

Tetapi di balik semua itu, yang paling penting bukan siapa yang membawa pulang hadiah paling besar berupa 2 buah sepeda federal. Yang lebih berarti adalah bagaimana kita bisa hadir sebagai bukti bukan janji !? dalam menjaga kebersamaan, dan pulang dengan cerita yang membuat kita ingin bertemu lagi.

Lantas, KTF berikutnya di kota mana, ya? Jadwal boleh mulai dipikirkan, tetapi jangan sampai semangatnya pantang menyerah kalah duluan sebelum tanggalnya diumumkan!

KTF #11 Jogja: Pulang, Bangkit, dan Pekerjaan Rumah #Fedjo
Sampai jumpa tahun depan di KTF #11 Jogja dan hal ini... Dari KTF pertama kali di Jogja di beberapa tahun lalu pada akhirnya KTF kembali ke Jogja. Sebuah kepulangan yang tentu membawa cerita baru, sekaligus pekerjaan rumah bagi #Fedjo untuk kembali merawat rasa persaudaraan agar tetap hidup.

Bukan hanya ketika acara sedang ramai ramainya tetapi juga pada hari-hari biasa setelah acara hari ini selesai, ketika jalanan kembali lengang dan kesibukan masing-masing mulai mengambil tempat.

Nanti pada waktunya semangat itu perlahan kembali bangkit. KTF #11 Jogja menjadi harapan baru bagi kita semua. Siapa tahu, dari pertemuan ini akan lahir cerita-cerita berikutnya. Bahkan, mungkin saja tahun depan kita kembali bertemu dalam acara yang sama. Semoga terlaksana!

Karena pada akhirnya, bukan sekadar sepeda yang menyatukan kita. Federal adalah sepeda warisan buatan anak bangsa, tetapi di baliknya ada nilai persaudaraan yang tumbuh pada masanya. Ada kenangan, perjalanan, dan ikatan yang tidak selalu bisa dijelaskan hanya dengan sebuah acara.

Kadang, kita memang harus menunggu KTF, Jamda, atau Jamnas Sepeda Federal untuk kembali bertemu. Jadwal yang padat membuat para pesepeda harus pandai mengatur waktu.

Guna menyelaraskan kesibukan, dan mencari kesempatan agar bisa berkumpul kembali.

Namun, bukankah justru di situlah tantangannya?
Barangkali inilah salah satu pekerjaan rumah para admin chapter,MTBFI, dan seluruh Federalist perlu terus membangun komunikasi, menjaga kebersamaan, serta menata legalitas organisasi agar komunitas ini memiliki pijakan yang semakin jelas di Indonesia.
Sebab, persaudaraan tidak cukup hanya dikenang; ia juga perlu dirawat dan diperjuangkan bersama.

Iyinkws.blogspot@com

Dan ketika suatu saat kita kembali bertemu, semoga yang kita bawa bukan hanya sepeda dan cerita perjalanan, tetapi juga semangat untuk menjaga apa yang telah diwariskan kepada kita.
Sebab, ada rasa memiliki yang tumbuh dari sebuah sepeda, ada persaudaraan yang bertahan melampaui waktu, dan ada rasa pulang yang selalu ingin kita temukan kembali mau kemana lagi. 
Sampai jumpa di ktf#11 Jogja tahun depan, bagi saudara-saudara Federalist.
Salam,

Iyink WS
19–20 September 2026
— Selesai —

Kamis, 16 Juli 2026

Malioboro, JLFR, dan Sebuah Kota yang Sedang Mencari Ruang.


Malam itu di acara jlfr ke 194 di hari jumat terakhir di bulan juni 2026 seakan kota Jogja kembali dipenuhi cahaya lampu sepeda. Ratusan, mungkin ribuan pesepeda bergerak bersama dalam satu irama. Ada yang datang dengan sepeda mahal, ada yang datang dengan sepeda tua yang catnya mulai pudar. Ada yang mengayuh sambil tertawa, ada yang mengayuh sambil berteriak lantang tanpa basa basi kepada lingkungan dari sebagian oknum pesepeda. 

JLFR merupakan gerakan yang cair dan tidak memiliki struktur kepengurusan
Di atas sadel yang sama, ternyata tujuan mereka tidak selalu sama.
Ada yang datang karena penasaran.
Ada yang datang karena ingin menjadi bagian dari keramaian.
Ada yang datang karena percaya sedang memperjuangkan sesuatu.
Dan ada pula yang datang karena merasa harus mengatur semuanya.

Dan kaum FOMO: Yang tak ingin ketinggalan cerita gowes dan mereka datang karena JLFR sedang ramai dibicarakan.
Tak lupa foto-fotonya berseliweran di media sosial. Video-videonya muncul di beranda. Teman-temannya ikut maka mereka pun juga ikut.
Bagi kelompok ini, jalanan adalah panggung. Semakin ramai semakin menyenangkan. Mereka ingin merasakan sensasi berada di tengah lautan pesepeda yang bergerak bersama.


Itu terasa banget ya,ini keresahan anak Jogja sekarang. Apalagi sebut saja,bagi para pentolan pada jamanya mulai turun gunung dan mulai menilai jlfr 2026 kali ini, Katanya : JLFR itu tumbuh organik setelah mereka tinggalkan.

Para pesepeda itu memiliki alasan yang beragam tentang memastikan kenyamanan di ruang publik secara umumnya.
Sedangkan pihak pemerintah juga memiliki alasan jadi kedua pihak itu tidak ada pihak yang sepenuhnya salah.

Anda sedang membaca kisah klasik ini yang akan terus anda baca sampai selesai.

Tidak ada yang salah.
       Setiap gerakan besar memang selalu menarik orang-orang yang ingin menjadi bagian dari sebuah peristiwa.
Namun kadang mereka lupa bertanya:
"Setelah malam ini selesai, apa yang sebenarnya sedang diperjuangkan?"
Mereka,Yang Ingin di jalanan bisa mendengar aksinya!! 

Perlu diketahui, polemik ini bermula terjadi pada 26 Juni 2026 saat pelaksanaan JLFR ke-194. Saat itu, para pesepeda yang hendak masuk ke kawasan Malioboro dihadang oleh aparat setempat.

Di antara kerumunan itu ada kelompok lain.
Mereka percaya bahwa jalan raya terlalu lama dimiliki kendaraan bermesin.
Mereka merasa pesepeda hanya menjadi tamu di kotanya sendiri.
Maka ketika ribuan sepeda memenuhi jalan, mereka merasa sedang mengirim pesan.
Bahwa jalan bukan hanya milik mesin.
Bahwa kota bukan hanya milik kendaraan yang paling cepat dan berpajak resmi !? 


Bahwa pesepeda juga berhak terlihat.
Mereka tidak sedang mencari keributan.
Mereka sedang mencari "Pengakuan".
Sayangnya, seperti banyak gerakan lain, pesan yang ingin disampaikan kadang kalah keras oleh cara penyampaiannya.
Kaum apresiasi ini yang hanya ingin bersepeda.
Sedangkan di sudut lain ada kelompok yang lebih tenang.
Mereka menikmati JLFR bukan sebagai aksi.
Bukan pula sebagai perlawanan.
Mereka hanya menikmati pemandangan yang jarang terjadi.

Perilaku...Itu bukan logika satu orang tetapi konsep & fakta last Friday ride emang begitu. 

Melihat ribuan orang mengayuh bersama.
Melihat sepeda menjadi pusat perhatian.
Melihat kota yang biasanya dikuasai kendaraan bermesin berubah menjadi lautan roda dua tanpa mesin.
Mereka percaya bahwa bersepeda tidak selalu harus menjadi perlawanan.
Kadang cukup menjadi perayaan.
Perayaan atas kebebasan bergerak.
Perayaan atas kesehatan.
Perayaan atas persahabatan dan kebersamaan. 

Sedangkan para Pejabat setempat : Menjaga kota tetap bergerak dengan siklus...!! 
Di sisi lain, para pejabat dan pengatur lalu lintas menghadapi persoalan yang berbeda.
Mereka tidak melihat satu kelompok.
Mereka melihat seluruh kota.
Mereka harus memikirkan wisatawan yang datang ke Malioboro.
Pedagang yang mencari nafkah.
Ambulans yang mungkin harus melintas.
Warga yang ingin pulang ke rumah atau pergi ke stasiun kereta.
Karena itu, ketika jumlah pesepeda semakin besar, pengalihan rute dianggap sebagai solusi.

Sedangkan bagi sebagian pesepeda, itu terasa seperti pembatasan dengan istilah di "Tutup" ataupun pernyataan baru dengan istilah "Pengalihan" buka tutup jalan. 
Bagi pemerintah, itu dianggap pengaturan dan itu sudut pandang yang sama-sama merasa benar untuk...!! Ketika eforia anak anak muda bersepeda di jalur padat Malioboro yang Lebih besar pasukan barisan pesepeda dari sebuah Jalan.

Andaikan,Perdebatan ini sebenarnya bukan tentang Malioboro,Bukan pula tentang JLFR Melainkan tentang bagaimana sebuah kota membagi bagi ruang jalan bagi semua penghuninya,Karena bagi sebagian pesepeda, Malioboro adalah sejarah,Mereka !!.

Foto : Brosur episode jlfr 194 di jumat terakhir di bulan juni 2026

Poin penting !?
1.Jlfr itu gerakan organik.
    Nggak ada ketua,bukan komunitas, nggak ada panitia, nggak ada seragam dan nggak ada yang ngomando sebagai pentolan.
2.Lahir dari energi secara alami. 
    Saat anak muda libur sekolah di bulan Juni kemarin mereka gabut maka daripada nongkrong nggak jelas,tawuran... mending sepedaan rame-rame....malah di larang!? 
Apalagi....Mereka jangan di tanya siapa yang danain karena nggak ada.
JLFR lahir karena gabut,
karena marah, 
karena capek,
karena akhirnya ada tempat buat lari dari realita keberanian...!!. 
Ini gerakan organik.
Meledak sendiri.
Seperti bunyi klakson,Tat...tut...tit. 
Dan yang membisingkan. ya keadaan.
3.Bukan baru saja gerakan ini muncul. 
    Malioboro ditutup buat Last Friday Ride sudah dari bulan lalu. Cuma baru rame banget pas bulan Juni,Jebol ekspresinya !!.
Jadi ini bukan "digerakin" atau "dibayar". Ini benar benar mulai meledak sendiri.

Lalu istilah di tutup jalan Malioboro kembali beralih ke di alihkan.
Menjadi media penyampaian di media lokal ,facebook dan instragram juga merasa bersalah bila tidak ikut siar ada berita terbaru tentang Malioboro dan Jlfr. 

Sedangkan bagi ekosistem Malioboro adalah penghidupan bagi pedagang dan bagi wisatawan, Malioboro adalah tujuan.
Dan bagi pemerintah, Malioboro adalah tanggung jawab dari siapa pemegang aturannya dan semua merasa memiliki alasan yang sah.


Berepeda Tidak Membutuhkan Gengsi.
       Pada akhirnya, jalanan akan selalu menjadi ruang pertemuan berbagai kepentingan.
Ada yang ingin terlihat.
Ada yang ingin didengar.
Ada yang ingin diperhatikan.
Ada yang hanya ingin sampai tujuan.
Namun sepeda mengajarkan sesuatu yang "Sederhana".
Roda tidak pernah bertanya siapa yang paling penting.
Pesepeda tidak pernah bertanya siapa yang paling berkuasa itu pada suka bersepeda atau tidak. 

Penulis Blogger-droid :
Iyinkws.blogspot@com

Pesepeda tidak mengenal jabatan, jumlah pengikut media sosial, ukuran komunitas, ataupun harga sebuah sepeda sultan maupun ecek ecek. 
Ketika dengkul kaki sebagai ukuran untuk mulai mengayuh, semua akan kembali menjadi manusia yang sama menderitanya bahkan tersiksa oleh keadaan jalanan menjadi gambaran cara pandang goweser menghadapi rintangan tanjakan dan turunan ,seperti apa menjadi ketagihan nih, sebagai hobi banget,lalu dalam situasi ini. .mungkin piknik bersepedamu kurang jauh, mas bro !? .

Maka harapan terbesar bukanlah siapa yang memenangkan perdebatan tentang jalan milik siapa dan di tapak oleh siapa !? 
Melainkan lahirnya kesadaran bahwa bersepeda bukan soal gengsi untuk berbicara paling keras.
Bukan pula soal eksistensi untuk terlihat paling hebat.
Melainkan tentang kemampuan untuk berbagi ruang, menghargai sesama pengguna jalan, dan menjaga agar setiap putaran roda tetap membawa kebaikan yang lebih bike, an....Amin. 

Sebab pada akhirnya, yang membuat seseorang layak berbicara tentang bersepeda bukanlah seberapa sering ia memenuhi jalanan.
Tetapi seberapa besar ia mampu menghadirkan "Manfaat" bagi orang lain melalui setiap kayuhan yang ia lakukan.


Aku dan kamu  !?.
Di sini tidak sedang menghakimi JLFR, tidak membela pemerintah, dan juga tidak menyerang yang tidak suka gowes sekalipum. 
Sepertinya kata ini untuk kamu, Ya, kamu yang merasa sudah meluapkan ada emosi ,iso tenang, sabar, sek,ya mas bro!? 
Ada pesan dari barisan cah lama dan yang lagi Fomo gowes yang sedang dicoba dipahami,oleh penulis ini. 

Padahal mereka kenyataannya satu orang bisa sekaligus menjadi pesepeda :
"Ada yang datang karena penasaran."
"Ada yang datang karena ingin didengar."
"Ada yang datang karena sekadar ingin bersepeda."

Bagian para "Pentolan turun gunung"
      Mungkin saja karena situasi ini,muncul  nama-nama lama pada jamannya yang pernah menghidupi JLFR ikut muncul kembali dalam percakapan dimedia sosial dan sebagian memilih bicara, sebagian memilih diam. Mereka melihat sesuatu yang dulu mereka kenal, tetapi kini tumbuh dengan wajah yang berbeda ada yang lucu, genit,maka ada istilah yang perlu di perbandingkan bahkan di luruskan. 

Penulis juga merasa ada bagian yang paling penting justru belum muncul ...!!?

Kenapa anak-anak muda itu sekarang memilih JLFR? Bukan komunitas yang sudah ada di Jogja lainnya yang gowesnya bukan malam sabtu ?

Karena kalau hanya bicara Malioboro,gowes di situ situ saja juga akan cepat basi.
Tetapi kalau bicara kegelisahan anak muda Jogja, tulisan ini akan tetap relevan di beberapa tahun lagi bagi pesepeda dan lingkungan mereka tempat berpijak ban rodanya. 

Misalnya:
Ada ruang untuk merasa bahwa mereka masih menjadi bagian dari kota ini.

JLFR 2026: Ketika Anak Muda Mencari Ruang di Kotanya Sendiri.
Nah, ini kuat sekali untuk di perjuangkan ke generasi pesepeda berikutnya !? 


Penutup.
      Menurut bayangan penulis....Mungkin suatu hari nanti perdebatan tentang Malioboro akan selesa dan rute bisa berubah dan bahkan aturan bisa berganti.
Pemerintah bisa datang dan pergi pada aturan jalur bersepeda.
" Namun " selama masih ada anak-anak muda yang memilih mengayuh sepeda daripada saling melukai dengan beradu argumen salah benarnya di situ masih ada "Harapan yang patut dijaga "

Sebab jalan bukan hanya tempat untuk lewat.
Jalan adalah tempat sebuah kota belajar hidup bersama mencari identitas yang aman, nyaman dan istimewa bagi pelakunya tetapi pelaku di sebuah kota "Kota yang lagi mencari keseimbangan " 


Kesimpulan
     Tulisan ini menurut penulis tidak perlu menjadi tulisan tentang Malioboro.
Tulisan ini lebih kuat jika menjadi tulisan tentang "Mengapa JLFR meledak di tahun 2026?"
Karena jawaban atas pertanyaan itu bukan sekadar soal sepeda tetapi kondisi kota jogja yang sebenarnya. 

Mungkin yang sedang diperebutkan bukanlah Malioboro, melainkan ruang untuk merasa menjadi bagian dari Jogja.

Itu yang membuat ceritanya bersepeda di jogja itu menarik di fahami dan Bersepeda dengan Cara berbeda " Tapi selaras di sebuah kota pesepeda dari sekadar debat pesepeda versus pemangku aturan kota menjelang acara jogja last friday ride ke 195 di hari jumat malam terakhir di bulan juli 2026 nanti,Semoga aman lancar dan terbaik untuk semua pelakunya. ..Amin. 



Malam hampir selesai.
Lampu-lampu Malioboro masih menyala seperti biasa dan keramaian perlahan menghilang.
Suara tawa, bel sepeda, dan percakapan yang tadi memenuhi jalan kini tinggal kenangan yang tertinggal di udara malam.
Para pesepeda sudah pulang.
Yang tersisa hanyalah sebuah sepeda yang bersandar di tepi jalan, ditemani cahaya lampu kota yang tak pernah benar-benar padam.
Seolah mengingatkan bahwa perdebatan akan berlalu, generasi akan berganti, rute akan berubah, tetapi harapan akan sebuah kota yang ramah bagi semua akan selalu menemukan jalannya sendiri.
Sebab jalan bukan hanya tempat untuk lewat.
Jalan adalah tempat sebuah kota belajar hidup bersama.

Selesai 

Oleh :
Wiwing "Iyink" WS

Blog Edisi unggulan

STORY PESEPEDA HARI INI Samigaluh, 3 Oktober 2026. Hari itu Kulonprogo berduka. Jogja ikut merasakan kehilangan.

Berita Update.  Kabar duka datang dari medan bersepeda di kawasan Samigaluh, Kulonprogo. Dua pesepeda dikabarkan meninggal dunia pada hari y...